Kamis, 26 Juli 2012

Kias Bias

Diposting oleh nbubble46 di 13.29 0 komentar

Ku bercerita dari segi yang berbeda
Dengan memainkan kata dan memutar-mutarnya
Kumasukkan kiasan labirin
Berkelok, buntu, dan jalan keluar
Pandangan sempit dan berkotak
Terluas hanya langit saja
Ku mengeja dari hamparan kata
Dironce menjadi sebuah kalimat beribu makna
Ketabuan, polos, kosong
Plural dan ambigu
Tugasnya memainkan jiwa
Dengan bentuk pahatan serpihan kaca
Yang ditembakkan menyembur ke segala arah
Tanpa disediakan pelindung baja
Dia seperti karet gelang
Meluncur, bergulung, lentur
Memicut
Ku membaca dari sapuan pustaka
Berbahan jiwa yang terlalu rumit dinalarkan logika
Indigo, apapun sejenisnya
Yang tidak mengapung dan juga tidak tenggelam
Melayang
Ku menjelaskan dari dunia anak-anak
Sebut saja, autis
Dunia yang tidak terbatas untukku tapi terkunci untuk kalian

Selasa, 24 Juli 2012

Paris Yang Tertinggal

Diposting oleh nbubble46 di 13.04 0 komentar

Mawar itu kembali menumbuhkan duri
Menggugurkan satu per satu kelopak merahnya
Aku memungutinya dari atas tumpukan daun berry yang mengering
Satu kepik yang kucium harumnya
Harum air mataku

“Kamu mau kemana, Dev?” tanyaku.
“Mengurus visa, Bel. Kemarin petugas imigrasi sudah menghubungiku, katanya visa Mrs. Giesel sudah selesai”
“Untuk bos mu itu?”
“Ya, kau mau ikut?”
“Tidak, aku banyak kerjaan hari ini. Berkas perkara Mr. Barl perlu banyak perbaikan” keluhku.
“Oh ya sudah, aku pergi ya”
“Hati-hati, Dev”
“Iya, sayang”

Harum coffe latte yang sering kusaduhkan
Tumpah ruah dalam cangkir merah desain naga emas dari China
Hirupan terakhir yang kudengar
Seperti irama orkestra yang galau
Menyeret hati untuk ikut berteriak
Sesuai rentangan tangan konduktor
Menyuruhku untuk menampar wajahmu

“Kami memutuskan untuk menikah di Burma, Bel”
“Kau, keterlaluan, Dev! Jadi selama ini kau bukan saja sudah jadi antek Mrs. Giesel tapi sudah jadi kekasih gelapnya”
“Iya benar, kenapa? Dia sering memberiku uang. Sejahtera aku bersama dia, haha”
“Dan kau bisa-bisanya tertawa setelah kau tusuk aku dari belakang? Kau kejam, Dev”
“Maafkan aku, Bel. Aku ingin memberitahumu sejak lama. Hanya saja kau terus memberiku perhatian disaat aku masih belum mendapat kepastian dari Giesel”
“Dan akhirnya kau pun begitu jujur mengakuinya? Pergilah manusia tengik!”
“Hanya ini yang kubisa berikan sebagai balasan perhatianmu, Bel”
“Aku tak butuh balasan darimu, Dev. Yang kuinginkan hanya kau segera enyah dari pandanganku!”

Mawar merah yang kau tinggalkan
Kubiarkan berserak di bawah pengkhianatan
Ku berduka di atas cincin pertunangan
Yang kutanam di atas rimbunan daun berry di taman kota Paris

Salju mulai turun...

Kompas

Diposting oleh nbubble46 di 09.47 0 komentar

Utara Dan Selatan Yang Tak Bisa Bersatu Walau Berada Di Dalam Kompas Yang Sama


"Bintang itu indah...saat dipandang dari jauh namun bila bintang itu dilihat dari dekat maka akan terasa sakit"

Penggalan kalimat drama korea itu mengiang-ngiang ditelingaku yang membuatku slalu membanding-bandingkan hubungan kita. Bintangku seperti air laut yang pasang surut. bukan salahku sebenarnya..tapi..dia sendiri yang membuat begitu.
Karang hati telah luluh akibat hangat bintangmu, namun tiba-tiba kembali mengeras akibat satu kesalahan fatal, yang membuat hati membentuk lapisan kaleng minuman.
Aku memaafkanmu tapi hati tak bisa kembali percaya padamu.
Semua berjalan lancar ketika khayalan yang indah-indah slalu menyemangati kegiatan, hingga malam dan bintang-bintang itu muncul semua terasa indah, dan masih sangat bisa dinikmati. Ketika bintang sekelebat melintas disamping dan didepan badanku..aku masih merasa hangat. Hingga satelit bintangmu ikut, yang kubiarkan pada awalnya..namun ternyata satelit mendekatkan bintang untuk membocorkan cahaya ke arah retina mataku.
Saat kurasakan deburan ombak malam kurasakan pertama kali..saat itulah bisikan orang dibelakangku mulai memberikan celah untuk meneruskan cahayamu menusuk lensaku.
Saat aku menanti cahaya bersama dinginnya ombak malam itu. Ternyata bintangmu melindungi satelit di arah kutub yang berbeda denganku. Di depan mataku, namun bintangmu berada dibalik kaca hitam. Aku tak bisa lihat.
Aku terus-terusan memaafkanmu...aku memang baik hati..
Hingga akhirnya siang datang..aku benar-benar melihat bintang dan satelitnya disiang bolong.. Aku ditikam double cahaya yang sangat menyilaukan.
Aku mulai menciut dan lari ke bawah pohon..mencoba mendinginkan suasana..
Aku bisa namun tak bisa berkali-kali. Aku kuat namun tak sekuat-kuatnya.
Ketika malam hujan deras, angin ribut disertai serangan segerombol pemangsa. Dan saat-saat kantuk merajang. Bintang itu hilang dan benar-benar menyakitkan.
Saat itulah aku menangis mengikuti irama hujan saat bintang datang menambah luka kepedihan.
Aku berjalan lunglai menuju peristirahatan, sambil menjejakkan kaki di atas genangan air. Diantara pasir basah yang menenggelamkan kaki. Sepatuku kotor aku tidak peduli.
Aku berdiam dibawah air conditioner. Berharap malam dingin ini akan membekukanku...buatku mati rasa.
Saat ku nikmati barisan kapal pertama..saat dapat kulihat batas antara langit dan air.
Luka semakin menjadi-jadi.. Satelit dan bintang sangat sangat sangat terang..mereka bersinar bersama prisma-prisma kaca yang berserakan disekelilingnya..
Aku yang berada tepat disisinya..mengalami distorsi bias yang nyata.. celah-celah fatamorgana membuyarkan khayalan indah sebelumnya. Aku sudah terluka sangat dalam.
Di perbatasan kota, bersama dua kendaraan yang berbeda.. bersama dua sisi jalan yang berbeda..akhirnya kita berpisah...


Bersamaan kompas yang kita bentangkan..arah selatan yang kau tuju..arah utara yang kutuju.. ucapan kecewa dari hati kubawa pulang
 

Nbubble46 Copyright © 2009 Paper Girl is Designed by Ipietoon Sponsored by Online Business Journal