Kamis, 26 Juli 2012

Kias Bias

Diposting oleh nbubble46 di 13.29 0 komentar

Ku bercerita dari segi yang berbeda
Dengan memainkan kata dan memutar-mutarnya
Kumasukkan kiasan labirin
Berkelok, buntu, dan jalan keluar
Pandangan sempit dan berkotak
Terluas hanya langit saja
Ku mengeja dari hamparan kata
Dironce menjadi sebuah kalimat beribu makna
Ketabuan, polos, kosong
Plural dan ambigu
Tugasnya memainkan jiwa
Dengan bentuk pahatan serpihan kaca
Yang ditembakkan menyembur ke segala arah
Tanpa disediakan pelindung baja
Dia seperti karet gelang
Meluncur, bergulung, lentur
Memicut
Ku membaca dari sapuan pustaka
Berbahan jiwa yang terlalu rumit dinalarkan logika
Indigo, apapun sejenisnya
Yang tidak mengapung dan juga tidak tenggelam
Melayang
Ku menjelaskan dari dunia anak-anak
Sebut saja, autis
Dunia yang tidak terbatas untukku tapi terkunci untuk kalian

Selasa, 24 Juli 2012

Paris Yang Tertinggal

Diposting oleh nbubble46 di 13.04 0 komentar

Mawar itu kembali menumbuhkan duri
Menggugurkan satu per satu kelopak merahnya
Aku memungutinya dari atas tumpukan daun berry yang mengering
Satu kepik yang kucium harumnya
Harum air mataku

“Kamu mau kemana, Dev?” tanyaku.
“Mengurus visa, Bel. Kemarin petugas imigrasi sudah menghubungiku, katanya visa Mrs. Giesel sudah selesai”
“Untuk bos mu itu?”
“Ya, kau mau ikut?”
“Tidak, aku banyak kerjaan hari ini. Berkas perkara Mr. Barl perlu banyak perbaikan” keluhku.
“Oh ya sudah, aku pergi ya”
“Hati-hati, Dev”
“Iya, sayang”

Harum coffe latte yang sering kusaduhkan
Tumpah ruah dalam cangkir merah desain naga emas dari China
Hirupan terakhir yang kudengar
Seperti irama orkestra yang galau
Menyeret hati untuk ikut berteriak
Sesuai rentangan tangan konduktor
Menyuruhku untuk menampar wajahmu

“Kami memutuskan untuk menikah di Burma, Bel”
“Kau, keterlaluan, Dev! Jadi selama ini kau bukan saja sudah jadi antek Mrs. Giesel tapi sudah jadi kekasih gelapnya”
“Iya benar, kenapa? Dia sering memberiku uang. Sejahtera aku bersama dia, haha”
“Dan kau bisa-bisanya tertawa setelah kau tusuk aku dari belakang? Kau kejam, Dev”
“Maafkan aku, Bel. Aku ingin memberitahumu sejak lama. Hanya saja kau terus memberiku perhatian disaat aku masih belum mendapat kepastian dari Giesel”
“Dan akhirnya kau pun begitu jujur mengakuinya? Pergilah manusia tengik!”
“Hanya ini yang kubisa berikan sebagai balasan perhatianmu, Bel”
“Aku tak butuh balasan darimu, Dev. Yang kuinginkan hanya kau segera enyah dari pandanganku!”

Mawar merah yang kau tinggalkan
Kubiarkan berserak di bawah pengkhianatan
Ku berduka di atas cincin pertunangan
Yang kutanam di atas rimbunan daun berry di taman kota Paris

Salju mulai turun...

Kompas

Diposting oleh nbubble46 di 09.47 0 komentar

Utara Dan Selatan Yang Tak Bisa Bersatu Walau Berada Di Dalam Kompas Yang Sama


"Bintang itu indah...saat dipandang dari jauh namun bila bintang itu dilihat dari dekat maka akan terasa sakit"

Penggalan kalimat drama korea itu mengiang-ngiang ditelingaku yang membuatku slalu membanding-bandingkan hubungan kita. Bintangku seperti air laut yang pasang surut. bukan salahku sebenarnya..tapi..dia sendiri yang membuat begitu.
Karang hati telah luluh akibat hangat bintangmu, namun tiba-tiba kembali mengeras akibat satu kesalahan fatal, yang membuat hati membentuk lapisan kaleng minuman.
Aku memaafkanmu tapi hati tak bisa kembali percaya padamu.
Semua berjalan lancar ketika khayalan yang indah-indah slalu menyemangati kegiatan, hingga malam dan bintang-bintang itu muncul semua terasa indah, dan masih sangat bisa dinikmati. Ketika bintang sekelebat melintas disamping dan didepan badanku..aku masih merasa hangat. Hingga satelit bintangmu ikut, yang kubiarkan pada awalnya..namun ternyata satelit mendekatkan bintang untuk membocorkan cahaya ke arah retina mataku.
Saat kurasakan deburan ombak malam kurasakan pertama kali..saat itulah bisikan orang dibelakangku mulai memberikan celah untuk meneruskan cahayamu menusuk lensaku.
Saat aku menanti cahaya bersama dinginnya ombak malam itu. Ternyata bintangmu melindungi satelit di arah kutub yang berbeda denganku. Di depan mataku, namun bintangmu berada dibalik kaca hitam. Aku tak bisa lihat.
Aku terus-terusan memaafkanmu...aku memang baik hati..
Hingga akhirnya siang datang..aku benar-benar melihat bintang dan satelitnya disiang bolong.. Aku ditikam double cahaya yang sangat menyilaukan.
Aku mulai menciut dan lari ke bawah pohon..mencoba mendinginkan suasana..
Aku bisa namun tak bisa berkali-kali. Aku kuat namun tak sekuat-kuatnya.
Ketika malam hujan deras, angin ribut disertai serangan segerombol pemangsa. Dan saat-saat kantuk merajang. Bintang itu hilang dan benar-benar menyakitkan.
Saat itulah aku menangis mengikuti irama hujan saat bintang datang menambah luka kepedihan.
Aku berjalan lunglai menuju peristirahatan, sambil menjejakkan kaki di atas genangan air. Diantara pasir basah yang menenggelamkan kaki. Sepatuku kotor aku tidak peduli.
Aku berdiam dibawah air conditioner. Berharap malam dingin ini akan membekukanku...buatku mati rasa.
Saat ku nikmati barisan kapal pertama..saat dapat kulihat batas antara langit dan air.
Luka semakin menjadi-jadi.. Satelit dan bintang sangat sangat sangat terang..mereka bersinar bersama prisma-prisma kaca yang berserakan disekelilingnya..
Aku yang berada tepat disisinya..mengalami distorsi bias yang nyata.. celah-celah fatamorgana membuyarkan khayalan indah sebelumnya. Aku sudah terluka sangat dalam.
Di perbatasan kota, bersama dua kendaraan yang berbeda.. bersama dua sisi jalan yang berbeda..akhirnya kita berpisah...


Bersamaan kompas yang kita bentangkan..arah selatan yang kau tuju..arah utara yang kutuju.. ucapan kecewa dari hati kubawa pulang

Jumat, 20 April 2012

I Love Friday!

Diposting oleh nbubble46 di 12.50 0 komentar
hai..hai.. lama tak berjumpa.. setelah beberapa bulan ya.. aduuuhh..kotor banget nih blog..whehe.. #nyapu..
Okeh, sblum masuk ke inti postingan..aku mau klarifikasi dulu knp ne blog bru dibuka.. secara mahasiswa menuju semester akhir, makin byk tugas dan penelitian yg harus dikerjakan. so, bbrp tulisan yg ku buat ya diperuntukkan bagi kesejahteraan penelitianku #halah.. Namun, yg jadi alasan utamanya sebenarnya, aku kesulitan buat nulis di blog karena sudah pindah dari sistem pc ke sistem android.. klo mau posting agak ribet. dan kenapa sekarang bisa? Karena baru nyari app khusus buat blog di andro market. Baru kepikiran juga,, #admin dong-dong..haa.
Today is friday, yeah.. aku emang suka banget sama yg namanya hari jum'at..dibandg hari lain..minggu misalnya. Hari jum'at itu kan menuju weekend.. nah klo minggu itu kan akhir weekend dan biasanya pekerjaan rumah tangga pada numpuk di hari minggu,haa. Entah kenapa menurutku Jum'at memiliki aura yg berbeda. lebih hangat gitu. Mungkin karna hari jum'at merupakan hari raya bagi umat muslim, biasanya cowo2nya pada ganteng semua ya hari Jum'at itu...hhaa. lagian di hari ini banyak rahmat Allah yang turun, kalo kita berbuat baik maka pahalanya berlipat-lipat dibanding hari yg lain #ehm,adminjadialimsekarang.. Terlepas dari segala yg pernah terjadi pada hari Jum'at..aku mau menjalar ke satu kisan di masa lalu. ya saat itu hari Jum'at, keadaan gerimis dan aku pulang sekolah dg motor yg tergolong masih baru. Saat itu aku kecelakaan pertama kali, tragis pula..ada benturan kepala..sempat amnesia sesaat. Sampai di rumah, sambil menahan sakit..aku mencoba mengingat rumus-rumus matematika. namun, yg lucunya aku hanya mencoba untuk menghitung 1+1 dan perkalian sederhana..haa..

masa lalu memang untuk dikenang :)) 

posted from Bloggeroid

Minggu, 01 Januari 2012

Sketsa Transportasi Masa Depan

Diposting oleh nbubble46 di 07.43 0 komentar
Beberapa waktu yang lalu saya dibuat kesal dengan keadaan carut marut kota besar. Dan ternyata malah sekarang disepanjang jalan provinsi. Tentang apa ya? ya tentang alat transportasi yang bergelimpangan di jalan (lebay ya). Entah karena didasari oleh semakin berkurangnya kualitas sopan santun di jalan raya atau karena peningkatan taraf kesejahteraan penduduk Indonesia atas bertambahnya kuantitas kendaraan di muka bumi.


Perbaikan jalan yang dilakukan pemerintah seolah tidak ada gunanya. Tetap aja macet, tetap aja aspalnya rusak lagi hanya karna penumpukan banyak mobil dan motor di jalan raya. Apalagi di daerah saya yang notabene daerah industri pertambangan yang lumayan pesat, truk2 batubara seolah2 mendominasi sketsa jalan raya. Udah jalannya lambat, berisik, memberikan sumbangan CO alias si asap hitam dari knalpot, menghabiskan lebar jalan, dan kalo udah ngantri solar di  SPBU pasti nyampe ke jalan raya...beuh, bikin nyesek jalan plus dada. Belum lagi motor yang semakin ugal2an yang ga pake lampu peringatan main belok sembarangan, nyalip sana-sini kaya akrobat di sirkuit, ga pake helm demi fashion show gratis, mpe nabrak rambu... Parah beungeudh gethoh loh... 


Kalo sudah begini mau bagaimana lagi? Apa pemerintah harus melarang masyarakat untuk beli motor atau mobil, atau malah melarang penjualan motor dan mobil,..tapi kredit motor mobil sudah menjalar dimana-mana..iklan2 mereka pun sudah macem2 mendominasi pasar iklan di Indonesia. Mengambil kebijakan pake alat transportasi umum tapi malah berita pemerkosaan di angkutan umum merajalela.. Hedeeehh..so how ladies and gentleman? Apakah harus dibentuk kebijakan untuk memproduksi pintu kemana saja-nya doraemon secara massal? Lol...

Namun, beberapa hari lalu saya ada mendengar isu bahwa di wilayah tempat tinggal saya akan dibentuk kebijakan untuk menggunakan sepeda bagi para pelajar. Kalo pendapat saya pribadi sih bagus karena selain ramah lingkungan, apalagi pelajar emang cocoknya berpasangan dengan sepeda ;p.. Mengingat mereka masih labil takutnya ikut mempengaruhi kelabilan dalam mengendari motor (ugal2an tadi, red). Apalagi sekarang model sepeda sudah warna-warni...didukung geografi wilayah yang ga terlalu luas, hal tersebut hendaknya direalisasikan secepatnya.

Bagaimanapun, kita adalah manusia yang memiliki mobilitas sendiri. Seyogyanya jalan dibangun dan alat transportasi diciptakan untuk memperlancar mobilisasi kita tersebut. Namun, jika sudah runyam bukannya memperlancar lagi tapi malah menghambat kan.. Oleh karena itu, untuk mengatasi hal tersebut perlu kerjasama dari semua pihak..dari yang terkaya sampai yang termiskin..dari pihak teratas sampai pihak terbawah sama2 punya andil dalam menyelaraskan sistem transportasi ini. Mulai dari pemerintah, polisi, produsen alat transportasi, pihak industri dan masyarakat sama2 bertanggungjawab. Persoalan ini harus diselesaikan. Mengingat saya pribadi akan stres kalo jalanan semrawut, dan mungkin perasaan ini ga jauh beda dengan perasaan orang lain kebanyakan. Zaman sekarang ini sudah banyak sesuatu2 yang bikin stres, so, jangan ditambah2 lagi deh..(beuh, curcol dah). Kecuali sih kalo ternyata sekarang meningkat minat untuk bermukim di rumah sakit jiwa..(wew wew wew). So, maunya kita niiihh..semakin menarik iklan motor mobil yang ditawarkan di televisi dibarengi dong iklan sepeda biar booming lagi gitu, trus semakin menarik juga iklan layanan masyarakat tentang cara berkendara yang baik dan benar. Bagi industri maunya punya jalan sendiri..jangan menambah sumbangan toksik yang sudah dilakukan kepada alam dan isinya. Yang berkepentingan diharapkan rajin turun ke lapangan untur mengatur langsung di TKP (ehm..) Masyarakat juga hendaknya hati2 berkendara, dan bagi orang tua untuk tidak membiarkan anaknya mengendarai motor terlalu dini. Pemerintah hendaknya tegas dalam menindak pelanggaran dan bener2 kalo buat undang2 atau kebijakan sejenisnya. Toh, kalo di jalanan rapi yang tenang kita juga. Uuuhhh..bagaimana sih? Bener kan kata saya.. :D

Jumat, 23 September 2011

Balon - Balon Udara

Diposting oleh nbubble46 di 02.02 0 komentar

Ketika sebuah mawar basah menyibak wanginya
Parfum-parfum bunga yang kau suka bertabur di sekitar rumahmu
Basah...akibat air bercampur
Entah itu bekas hujan atau air mata dari orang yang menyayangimu
Engkau tetap saja pergi

...

"Aku ingin kertas-kertas itu, Mira" katamu sambil menunjuk ke tumpukkan kertas minyak bekas di gudang rumahku.
"Buat apa? Ibuku mau membakarnya besok" jawabku.
"Kalau kau dan ibumu tidak keberatan, yaaa...". Kamu mulai memasang mimik memelas, andalanmu. 
"Sofi, buat apa sih?"
"Aku mau buat sesuatu"
"Aku curiga"
"Hehe...kotak surat untuk Tuhan"
"Maksudmu?"
Kamu hanya membalas dengan tersenyum simpul.

...

Saat terperangkap dalam tubuh kecil kita
Teriakanmu selalu terbang di udara
Bersanding berdua kita berdiri
Menyaingi rantai ayunan yang sudah hampir karatan
Menantang decitan besi di taman bermain
Kita berdua ingin terbang
Kamulah pilotnya
Pilot dalam kehidupanmu dan juga hidupku
Teman yang luar biasa
Tak pernah menangis kala papan ayunan tiba-tiba lepas
Yang berlari gembira ketika Pak Amat menegur dengan sapu kecilnya
Kamu berlari terseok-seok menghindari cerocosan kakek setengah baya itu
Bapak penjaga taman
Taman yang kita akui sebagai bandara kita
Yang kamu agungkan cita-citamu di atasnya
Co-pilot katamu, minimalnya jenjang kariermu yang ingin kamu rintis
Aku hanya ikut-ikutan tertawa dalam ketidakmengertian
Keluguan masa-masa kecil kita yang hanya penuh tawa
Tawa darimu

...

"Orang tuaku bercerai, Sof. Aku tak punya harapan lagi".
"Seperti cerita baru saja kamu, Mir. Kenapa lagi?"
"Aku tak bisa melanjutkan hidup. Aku tak mungkin bisa sekolah lagi. Tanpa ayahku, aku dan ibu hanya berharap pada sepotong kue. Kamu tau, takkan mungkin aku masuk ke jurusan kedokteran. Ayahku tak membantu apa-apa. Dia bangkrut juga."
"Kamu tak mau pilot, hah?"
"Dalam keadaan begini kamu masih saja mengiming-imingku sekolah pilot, Sof?"
"Hehe, santai Mir. Dari dulu aku juga sudah menduga, kamu ini takut ketinggian. Teriakanmu lebih keras dibanding aku. Kalau melihat Pak Amat saja sudah ciut. Bagaimana mau menjadi pilot?"
"Yayaya...walaupun sekolah pilot ataukah sekolah dokter, sama saja aku tak ada harapan. Mungkin sampai di sini saja. Tamat riwayatku"
"Aku heran. Seperti kamu saja yang tau masa depanmu, Mir. Memang besaran mana cita-citamu dengan uang, hah?"
"Mana aku tau, Sof. Cita-cita mana bisa diakumulasikan dengan angka..."
"Kalau kamu tidak bisa mengakumulasikan cita-citamu dengan bentuk angka itu berarti cita-cita memiliki nilai yang sangat besar sehingga tidak bisa dihitung lagi. Cobalah pikir, kamu mengumpulkan harapanmu sejak lama, anggap saja sejak 10 tahun yang lalu, kalau kamu menabung pasti akan terkumpul uang banyak sekali"
"Kamu bagaimana? Tiap hari saja aku susah payah untuk makan, bagaimana mau menabung"
"Benar, tapi kamu menabung di hatimu, Mir. Hatimu lebih kaya dibanding apapun. Hatimu itu milik Tuhan. Ketika kamu berharap dan harapan itu ada di hatimu.. Kamu sudah menabung dengan Tuhan. Biarkan Tuhan menciptakan dengan caranya sendiri. Kamu jangan berhenti berharap".
Aku langsung terdiam. Kata-katamu selaksa buih yang menghapus pasir-pasir kasar di pantai dan meratakannya menjadi halus kembali.

...

Ketika asa yang menghilang
Seorang teman datang memeluk raga
Menunjukkan letak mentari
Agar biasnya menghangatkan hati yang terluka
Segala perandaian yang baik
Terbentuk ucapku atas keajaiban kata-katamu
Kamu yang terbang di langit seolah tau perubahan mimikku
Kamu turun landas menghampiri
Membawa berbagai candy memaniskan senduku
Penuh canda sampai saatnya tiba

...

Perpisahan kita terjadi lebih cepat dari yang kukira. Aku harus pergi ke sekolah kedokteran negeri di kota lain dengan beasiswa. Suatu keajaiban dari Tuhan yang berasal dari harapan-harapan yang dikumpulkan Sofi untukku. Sofi pun lebih parah. Dia harus pergi ke luar negeri. Pelatihan untuk pilot pemula katanya. 
"Kamu ini kurus sekali, Sof. Seperti kurang makan saja. Bagaimana kuat mau menerbangkan pesawat, hehe"
"Lemak boleh saja sedikit, Mir. Tapi tulangku besar...ototku pun merekat kuat..haha"
"Asal jangan sakit aja ya kau di sana. Walau kurus jangan sering-sering makan burger juga ya..walau berasal dari daging dan banyak lemak tapi itu jenis makanan siap saji, tidak sehat"
"Ya elaaahh.. ibu dokter sudah pandai ceramah ya sekarang"
"Ooo...tentuuu..aku kan dokter teladan"
"Ya..berusahalah seperti itu, tolonglah pasienmu dengan hati ya..jangan jadi dokter yang materialistis..Okeh?"
"Okeh, Sofi. Kamu juga ya..belajar benar-benar. Jaga penumpangmu agar selamat sampai tujuan"
"Pasti, Mir. Aku pastikan sampai tujuan"Sofi menjawab lirih

...

Radar yang kumiliki tak sekuat punyamu
Tak terlihat tanda-tanda walau ia berbunyi keras
Aku tidak mengerti segala bentuk teknik
Yang ku tau hanya organ-organ yang bernama Latin aneh
Bandaraku adalah sebuah kamar operasi dengan pegangan pisau bedah
Seragamku berlengkap masker dan sarung tangan karet
Ruanganku tak sebesar lapangan pesawatmu
Namun kamu tetap mendaratkan pesawatmu di bandaraku tiba-tiba
Hanya saat orangtuamu datang ke ruang praktekku

Aku ada di sampingmu sekarang
Menyambutmu

...


"Bagaimana pasien ini, Dr.Budi?"aku bertanya pada seniorku.
"Kecil kemungkinan kita, dr.Mira"
"Walau dengan seluruh teknologi yang kita punya, Dok?"
"Walau harus dirujuk ke rumah sakit di luar negeri pun, dr.Mira"

...

Sekian lama waktu yang ku kenal denganmu penuh tawa
Hanya sekejap Tuhan menunjukkan tanda
Tak sampai aku menangkap sinyal-sinyal pertolongan darimu
Kamu sekarang lepas landas
Menuju hartamu yang kau tabung sejak lama
Tuhan menyambutmu

Sepulang dari alkahmu. Ku sempatkan mampir di rumahmu. Masih dalam suasana duka. Bendera hijau 'sarikat kematian' kampung masih ada di depan pagar. Mata kedua orang tuamu sembab. Bahkan ibumu masih menangis. Darinya baru aku tau bahwa kamu ke luar negeri hanya untuk berobat, tidak sekolah pilot. Namun, tak habis pikir kenapa kamu tidak menceritakannya padaku. Mengapa begitu? 
Ibumu pun beranjak dan mengeluarkan sesuatu dari dalam koper. Sebuah balon kecil yang belum di tiup .. Di bawahnya ada sebuah surat kecil yang diikatkan dengan tali ke balon tersebut. Ibumu menjelaskan bahwa kamu memiliki kebiasaan menerbangkan balon ke udara yang membawa harapan-harapanmu kepada Tuhan.
Aku terharu menerima balon udara terakhirmu. Ku tiup dan ku bawa ke pekarangan rumahmu. Sebelum melepaskannya ku buka isi pesan yang kamu tulis. Dan dengan air mata kulepas balon udara itu pergi.

...

"Hai, Sof. Sedang apa kamu"
"Menerbangkan balon, kamu mau coba, Mir?"
"Ini kok ada suratnya?"
"Ini surat khusus. Jangan dibuka, ya. hehe.."
"Pelit sekali kamu, Sof"
"Bukan begitu, tapi hanya seorang pilot yang boleh menerbangkan pesawat. Iya, kan?"
"Iya, tapi ini kan balon bukan pesawat"
"Balon ini ada penumpang di dalamnya, jadi harus diterbangkan oleh sang ahli supaya selamat sampai tujuan"
"Ah, kamu berlagak pilot profesional saja, Sof. Boleh aku titip penumpang? Begini-begini aku juga mau diajak terbang"
"Mmm..jangan di sini, kita ke pake ayunan di taman saja, yuk"
"Okeh lah, apa katamu deh"

Kita pun berlarian menuju taman. Taman yang riuh dengan tawa seorang calon pilot dan calon dokter yang masih imut. Yang penuh dengan balon-balon udara harapan. Kamu yang telah menyimpan penyakitmu sejak lama. Kamu yang lemah sejak awal. Dengan balon-balon harapan menyokongku untuk maju di antara harapan-harapanmu. Walau kamu bukan Tuhan kamulah kotak surat dariku untukNya.

"Tuhan, semoga Mira menjadi dokter yang hebat agar aku bisa bertanya tentang 'Kanker' padanya"

Rabu, 14 September 2011

Kue Tradisional: Topi Waja

Diposting oleh nbubble46 di 23.11 0 komentar
Pada postingan kali ini, saya ingin memperkenalkan sebuah kue tradisional Kalimantan Selatan yang bercita rasa tinggi, rasanya manis dan gurih. Dibuat secara tradisional (bener2..sueerr) dengan resep turun temurun dari nenek moyang, haha.. Yang jelas ini kue sering diolah nenek untuk cucunya yang tersayang ini (saya, red :p). Walau terlihat ribet namun cara pembuatannya inilah yang membuat rasa kue menjadi khas dengan bentuk dan tingkat kematangan yang pas. Eits, tapi untuk jumlah/ukuran bahan saya tidak menyebutkan secara pasti karena membuatnya pake hati maka bahannya disesuaikan dengan keinginan sendiri..pas2kan aja lah..hehe.. Langsung dah.. Just cekidot...

Bahan :

  • Tepung beras (kira2 200 gr)
  • Telur itik (kira2 3 butir...bisa diganti dengan telur ayam biar lebih mengembang tapi berhubung 'maker' alergi telur ayam maka diganti jadi telur itik :p)
  • Gula merah (kira2 1/4 biji yang besar)
  • Garam (secukupnya, sedikit aja mungkin 1/2 sdt cukup)
  • Margarin atau minyak goreng secukupnya



 Alat:
  • Pisau
  • Wadah (bisa mangkok, baskom, atau apalah yang penting ga kecil)
  • Sendok
  • Arang
  • Wajan (kecil saja, kalau bisa yang agak dataran)
  • Serokan wajan



  • Dapur  (semacam tempat tradisional untuk membakar yang terbuat dari tanah liat). Bisa juga menggunakan kompor, hanya saja hati-hati dalam pemakaiannya karena agak susah dalam mencapai tingkat kematangan yang pas.
  • Tembikar yang berbentuk mangkok kecil min.2 buah (alat penutup)
  • Bangkit2an (bisa menggunakan kain bekas atau kardus, berfungsi sebagai alas tangan saat ingin memindahkan tembikar)
  • Korek api + minyak tanah





Cara membuat:

  • Gerus gula merah sampai halus, masukkan telur dan tepung beras lalu dicampur (aduk pake tangan biar rata). Agar ke-higienis-an tetap terjaga maka saat mengaduk dapat menggunakan sarung tangan plastik. Pada penambahan tepung beras bisa dicampurkan sedikit demi sedikit, menyesuaikan jadinya adonan.
  • Tambahkan sedikit garam


  • Ketika adonan sudah jadi maka sebaiknya dibiarkan (didiamkan) sampai mengembang. Biasanya semakin lama didiamkan akan semakin enak (maksudnya sih ga nyampe berhari2-berminggu2 juga).
  • Panaskan wajan di atas dapur yang telah dikasih bara. Di sisi lain, panaskan bagian dalam tembikar di atas bara juga.
  • Masukkan adonan (satu sendok besar) ke dalam wajan, ambil tembikar yang panas lalu langsung letakkan di atas wajan dengan posisi menutup (contoh seperti masak kue terang bulan/martabak)
  • Selalu jaga suhu di dalam wajan dengan mengganti2 tembikar (kondisi panas) hingga bagian tengah kue agak naik (menyerupai topi) dan berwarna kecoklatan (bukan hitam lo yaa...)
  • Angkat dan akan lebih enak kalau disajikan selagi masih hangat...




Selamat mencoba! :))
 

Nbubble46 Copyright © 2009 Paper Girl is Designed by Ipietoon Sponsored by Online Business Journal